Demam Tifoid – Gejala, Penyebab Dan Komplikasi


Demam Tifoid atau tifus (tipes) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhii. Penyakit ini bisa menular dengan cepat, umumnya melalui konsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi tinja yang mengandung bakteri Salmonella typhii. Pada kasus yang jarang terjadi, penularan demam tifoid bisa terjadi karena terpapar urine yang sudah terinfeksi bakteri Salmonella typhii.

Hampir 100.000 penduduk Indonesia terjangkit penyakit demam tifoid tiap tahunnya. Oleh karena itu, penyakit tifus dinyatakan sebagai penyakit endemik dan masalah kesehatan serius dalam negeri. Sanitasi yang buruk dan keterbatasan akses ai bersih, diyakini adalah penyebab utama berkembangnya penyakit demam tifoid. Anak-anak lebih sering terserang tifus karena belum sempurnanya sistem kekebalan tubuh.

Apabila tidak segera diobati, tiap satu dari lima orang akan meninggal karena demam tifoid. Demam tifoid juga berisiko menimbulkan komplikasi. Pengobatan bisa dilakukan dirumah atau di rumah sakit, tergantung pad atingkat keparahan penyakit.

Gejala Demam Tifoid

Pada umumnya, masa inkubasi bakteri penyebab demam tifoid adalah 7-14 hari, namun dapat lebih pendek yaitu sekitar tiga hari, atau lebih panjang hingga 30 hari. Masa ini dihitung dari saat bakteri masuk ke dalam tubuh hingga menimbulkan gejala awal. Berikut beberapa gejala yang mungkin dirasakan oleh demam tifoid:

  • Demam yang meningkat secara bertahap tiap hari hingga mencapai 39°C-40°C
  • Demam akan lebih tinggi pada malam hari
  • Merasa tidak enak badan
  • Sakit kepala
  • Kelelahan dan lemas
  • Pembesaran ginjal dan hati
  • Nyeri otot
  • Batu kering
  • Sakit perut
  • Kehilangan nafsu makan
  • Pada anak-anak sering mengalami diare
  • Orang dewasa cenderung mengalami konstipasi
  • Muncul ruam pada kulit berupa bintik-bintik kecil berwarna merah muda
  • Linglung, merasa tidak tahu sedang ada dimana dan apa yang sedang terjadi disekitar dirinya

Gejala demam tifoid berkembang dari minggu ke minggu dengan ciri seperti:

Minggu ke-1

  • Demam yang awalnya tidak tinggi, kemudian bertahap hingga mencapai 39-40°C
  • Suhu tubuh bisa naik atau turun pada minggu pertama
  • Lemas dan tidak enak badan
  • Sakit kepala
  • Mimisan

Minggu ke-2

  • Demam tinggi yang cendeurng memburuk hingga malam hari
  • Denyut nadi melambat
  • Sakit perut
  • Diare atau semeblit parah
  • Muncul bintik-bintik yang berwarna seperti bunga mawar
  • Tinja berwarna kehijauan
  • Perut kembung akibat pembengkakan hati dan empedu

Minggu ke-3

Suhu tubuh menurun pada akhir minggu ketiga, namun dapat menimbulkan komplikasi seperti perdarahan pada usus, dan pecahnya usus.

Minggu ke-4

Penyakit demam tifoid akan berangsur-angsur menurun, namun namun dapat menyebabkan komplikasi yang membahayakn nyawa.

Penyebab Demam Tifoid

Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii yang masuk ke dalam usus manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, dan berkembang biak di saluran pencernaan. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena demam tifoid, antara lain:

  • Sanitasi buruk, negara seperti Indonesia, penyebaran bakteri Salmonella typhii umumnya terjadi melalui konsumsi air yang terkontaminasi tinja yang mengandung bakteri tersebut.
  • Bakteri bisa menyebar jika orang yang telah terinfeksi tidak mencuci tangan sebelum menyentuh atau mengolah makanan. Bakteri akan menyebar saat ada orang lain yang menyantap makanan yang tersentuh tangan penderita
  • Mengonsumsi sayur-sayuran yang menggunakan pupuk dari kotoran manusia yang terinfeksi
  • Mengonsumsi produk susu yang telah terkontaminasi
  • Melakukan seks oral dengan pembawa bakteri Salmonella typhii

Diagnosis Demam Tifoid

Di Indonesia, pemeriksaan Widal yaitu uji serologi untuk mendeteksi keberadaan bakteri Salmonella masih sering dilakukan untuk mendiagnosis tifus. Tes ini sangat membantu terutama didaerah yang tidak memiliki diagnosis yang lebih canggih dan mahal.

Selain tes widal, ada juga tes yang lebih cepat dan akurat mendeteksi demam tifoid yaitu tes TUBEX. Tes imunologi ini dilakukan menggunakan partikel berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. Selain tes tersebut, ada diagnosis demam tifoid yang tergolong akurat yaitu pemeriksaan aspirasi sumsum tulang. Namun, tes ini jarang dilakukan dan hanya digunakan apabila pemeriksaan lain tidak membawa hasil yang meyakinkan, sebab mengambil sampel sumsum tulang memakan waktu yang cukup lama dan terasa nyeri.

Komplikasi Demam Tifoid

Komplikasi terjadi saat penderita lambat atau tidak diobati dengan pengobatan yang tepat. Komplikasi yang bisa terjadi adalah pendarahan pada saluran pencernaan dan infeksi yang menyebar ke jaringan sekitarnya sampai mengakibatkan usus atau saluran pencernaan robek.

Saluran pencernaan yang robek dapat mengakibatkan isi dari saluran pencernaan masuk ke rongga perut (peritoneum). Hal ini akan berbahaya saat bakteri penyebab demam tifoid menyebar hingga peritoneum atau yang dikenal dengan peritonitis.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *